Destinasi Wisata Peninggalan Prabu Siliwangi

Wuhan Blog - Menapaki sejarah Prabu Siliwangi menjadi salah satu wisata baru yang ditawarkan di Situs Batu Kasur, Gunung Kasur, Kecamatan Pacet, Cianjur. Kisah tersebut disampaikan secara turun temurun oleh warga sekitar, meski pada dasarnya masih butuh banyak pembuktian.

Gunung Kasur
Gunung Kasur
Kawasan wisata yang baru saja diresmikan oleh Bupati Cianjur, Irvan Rivano itu kini sedang digandrungi masyarakat. Pasalnya, Gunung Kasur yang terletak di antara Desa Gadog dan Cibodas itu menyimpan keindahan alam tersembunyi disertai artefak yang diperkirakan berkaitan dengan Prabu Siliwangi.

Menurut Kepala Desa Gadog, Mieftahudin, terdapat batu berbentuk kasur yang berada di puncak bukit. Dahulu, batu tersebut dilengkapi bebatuan lain yang serupa dengan bantal dan guling tapi saat ini hanya batu berbentuk kasur yang tersisa.

”Sampai saat ini, daya tarik Situs Batu Kasur terletak pada benda peninggalan tersebut. Banyak orang yang ramai-ramai mendaki ke puncaknya,” ujar Mieftahudin Minggu 25 Desember 2016.

Situs tersebut memang diketahui tengah populer, terutama di kalangan remaja yang seringkali memadati lokasi untuk berswafoto. Lokasinya yang mudah terjangkau, membuat Batu Kasur ramai sepanjang waktu.

Akses menuju lokasi berpatokan pada Pasar Cipanas, kendaraan roda dua dan empat kemudian dapat mengakses Jalan Gadog menuju ke jalan masuk situs. Perjalanan tersebut menempuh jarak 4 kilometer, dilanjutkan dengan 1 kilometer perjalanan ke area parkir Situs Batu Kasur dengan kondisi jalan yang berbatu.

Setelah memarkirkan kendaraan, pengunjung harus berjalan menapaki tangga tanah sejauh 500 meter menuju ke puncak bukit. Tidak ada biaya tiket masuk, tapi pengunjung biasanya membayar parkir atau perawatan situs secara sukarela.

Setelah lelah menapaki bukit, pemandangan alam berupa bentangan sawah, pegunungan, dan bangunan-bangunan di Cipanas akan membayar lelah perjalanan bukit yang berada pada ketinggian 1.080 mdpl itu.

”Tempat wisata seperti ini akhirnya dimanfaatkan untuk berfoto-foto. Apalagi Batu Kasur punya daya tarik tersendiri untuk diabadikan, kami pun memfasilitasi pengunjung untuk berfoto,” katanya.

Namun, dibalik ramainya wisata yang telah ditetapkan sebagai situs oleh Museum Situs Kepurbakalaan Banten itu, masih terdapat persoalan kepemilikan lahan yang sah antara dua desa berbatasan tersebut.

Selama ini, pengelolaan diakui Mieftah dilakukan secara swadaya dan spontan karena belum jelasnya status kepemilikan lahan. Terdapat pihak yang mengklaim tanah tersebut merupakan milik pribadi, tapi juga ada perdebatan yang menyatakan Desa Gadog dan Cibodas sebagai pemilik sah lahan situs tersebut.

Akan tetapi, banyak bukti gambar dan cerita dari leluhur terdahulu yang menunjukkan bahwa situs tersebut berada pada tanah kas Desa Gadog. Mieftah tak lantas puas dan mengklaim kepemilikan, ia berusaha menghindari konflik yang munkin terjadi akibat perdebatan terkait lahan.

”Kami membuat panitia kerja untuk menelusuri inventaris tanah kas Desa Gadog di kawasan situs. Kalau ada, akan dilakukan pengukuran dan sertifikasi lebih lanjut,” ujarnya.

Hal itu dinilai perlu dilakukan, sebab pihak Desa Gadog telah merencakan kelangsungan wisata Batu Kasur ke depannya. Jika terdapat bukti otentik terkait tanah kas desa, Mieftah akan memoles wisata Batu Kasur agar lebih maksimal dan semakin menarik untuk dikunjungi.

Pihak Desa Gadog menginginkan pengadaan fasilitas wisata yang menunjang, seperti alat bermain sampai infrastuktur yang lebih layak dilalui. Hanya saja, semua akan dilakukan setelah adanya kepastian lahan.

”Untuk melakukannya juga, kami membutuhkan dana bantuan dari pemerintah. Walaupun ada dana desa, kami tetap menginginkan ada bentuk kepedulian dari pemkab terhadap kawasan wisata ini,” kata Mieftah.

Menurutnya, dana bantuan telah diajukan pada APBD perubahan 2016 ini dan pemerintah desa hanya tinggal menunggu realisasi. Ia mengharapkan, pemkab tetap memberikan dukungan dana ataupun dukungan politis terkait pengelolaan wisata yang bahkan sudah dikunjungi oleh wisatawan asing asal Timur Tengah itu.

0 komentar:

Copyright © 2013 Wuhan Blog